Selasa, 17 Mei 2016

Detektif Sensus



                                                                               Bab 2
                                                                     Detektif Sensus



            Pagi itu, aku datang ke sekolah terlambat, tidak biasanya aku terlambat dalam jam sekolah, tapi pagi ini ada rasa yang berbeda, walaupun dinginnya kurang bersahabat sehingga aku harus menggunakan jaket berwarna coklat, jaket itu seperti perangko di tubuhku karena ketat dan agak kecil.
            Aku yang dari tadi sudah mempersiapkan sepada ontelku untuk berangkat, aku dorong sepeda ontelku tua berkarat.Kemudian aku melompat untuk duduk di atas. Aku terus melaju sepeda ontelku dengan kencang berharap bahwa badanku mengeluarkan keringat sehingga aku tidak merasa dingin.



Sambil menghirup udara pagi yang segar ditambah dengan melihat sawah-sawah yang indah tersusun rapi, berserta tanaman padi yang beranjak dewasa berwarna kehijauan mirip seperti apel malang. Tanjakan demi tanjakan aku menggayuh dengan sepada otelku, turunan demi turunan aku aku lewati.Ketika melalui jalan menurun aku lespaskan tanganku dari setang sepeda ontelku. Hal seperti itu membuat aku seakan-akan terbang bebas di atas jalanan.
Tiba-tiba didepanku ada sepada motor melintas entah dari mana arahnya tiba-tiba ia tepat berada di depan sepeda ontelku. Spontan lansung menambrak, gubrak..terdengarlah suara yang mirip dengan burung beo. Kemudian dia berkata:“piye toh mas numpak pit kok pecicilan." Itu pasti suara ibu-ibu ungkapku dalam hati. Aku yang juga ikut terjatuh langsung bangkit dan minta maaf.. “Ngaputen njeh Bu kulo boten priso jenengan." ungkapku dengan bahasa jawa  halus”
Sebenarnya ibu tadi akan marah habis-habisan. Karena aku sudah menambrak motor yang memboncengnya. Tapi mungkin karena kasihan melihat diriku yang menahan sakit sambil tertatih-tatih untuk bangkit. kemudian dengan segera aku minta maaf dan mengakui kesalahanku kemarahan itu pun reda.
Mungkin ibu tadi berpikir ini anak kasihan juga pagi-pagi berangkat sekolah dengan menggunakan sepada otel yang mirip dengan onta Arab, butut lagi. Hal itu aku lihat dari balik matanya yang menyimpan tanda tanya dan heran.
Menurutku itu adalah kejadian yang memalukan buatku. Karena tidak biasanya ketika aku berangkat sekolah akan terjadi hal-hal yang konyol, itu mungkin akibat aku terhipnotis oleh sosok yang melintas di depan.
Tabrakan kecil itu terjadi ketika aku kehilangan konsentrasi saat aku mengalihkan pandangan mataku ke arah motor yang melintas di depanku. Jarak sepeda motor yang melintas itu sekitar 20 langkah kaki dari pandanganku. Dan ketika tabrakan itu terjadi aku sebernanya masih tertuju pada sebuah motor yang melintas 20 kaki dari arahku. 
Seingatku motor itu tidak melaju dengan kencang jadi aku tahu persis siapa yang ada di atas motor itu. Di atas motor terdapat seorang cewek yang berambut panjang, berkulit putih, bermata sahdu dan memiliki alis yang melengkung seperti bulan yang sedang bersinar di tengah gelapnya malam.
Waktu aku menyaksikan pemandangan itu. Udara dingin yang merayap layaknya anak semut sedang mencari makan hilang dan tubuhku mengeluarkan energi yang membara seakan-akan ingin tahu yang mendalam disertai dengan motivasi hebat yang meringkuk di dalam tubuhku.
Aku mematung layaknya patung pancoran yang sering aku lewati ketika pulang kerja. Aku terpana, aku terpesona oleh dirinya yang pagi itu mengacaukan aliran syaraf otakku yang sudah tersusun dengan rapi. Ia dengan tib-tiba datang membuyarkan apa yang akan aku lakukan di pagi ini. 
Sehingga jadwalku di pagi itu kalang kabut tidak berurutan. Aku bertanya dalam hati siapa dia sepertinya aku kenal dengan dirinya karena seragam sekolah Aliyah yang aku kenakan sama dengan dirinya. “Apakah mungkin kami satu sekolah denganku." ungkapku dengan heran. 
Tapi sepertinya tidak mungkin orang seperti dia bersekolah ditempat kami, dia pasti mencari sekolah favorit, mahal dan terkenal.
            Sejak pertemuan itu aku mulai diliputi rasa penasaran. Dan aku mulai menyusun rencana untuk mencari seseorang yang bersosok seperti dirinya. Layak seperti detektif. Aku mulai mengumpulkan data tentang dirinya dari mulai siapa namanya, di mana ia tinggal sampai pada jam berapa ia keluar dari sekolahnya. Tapi sepertinya yang cocok dengan tugas itu bukan diriku detektif tapi sensus penduduk.