Bab 2
Detektif Sensus
Pagi itu,
aku datang ke sekolah terlambat, tidak biasanya aku terlambat dalam jam
sekolah, tapi pagi ini ada rasa yang berbeda, walaupun dinginnya kurang
bersahabat sehingga aku harus menggunakan jaket berwarna coklat, jaket itu
seperti perangko di tubuhku karena ketat dan agak kecil.
Aku yang
dari tadi sudah mempersiapkan sepada ontelku untuk berangkat, aku dorong sepeda
ontelku tua berkarat.Kemudian aku melompat untuk duduk di atas. Aku terus
melaju sepeda ontelku dengan kencang berharap bahwa badanku mengeluarkan
keringat sehingga aku tidak merasa dingin.
Sambil menghirup udara pagi yang
segar ditambah dengan melihat sawah-sawah yang indah tersusun rapi, berserta
tanaman padi yang beranjak dewasa berwarna kehijauan mirip seperti apel malang.
Tanjakan demi tanjakan aku menggayuh dengan sepada otelku, turunan demi turunan
aku aku lewati.Ketika melalui jalan menurun aku lespaskan tanganku dari setang
sepeda ontelku. Hal seperti itu membuat aku seakan-akan terbang bebas di atas
jalanan.
Tiba-tiba didepanku ada sepada motor
melintas entah dari mana arahnya tiba-tiba ia tepat berada di depan sepeda
ontelku. Spontan lansung menambrak, gubrak..terdengarlah suara yang mirip
dengan burung beo. Kemudian dia berkata:“piye
toh mas numpak pit kok pecicilan." Itu pasti suara ibu-ibu ungkapku dalam
hati. Aku yang juga ikut terjatuh langsung bangkit dan minta maaf.. “Ngaputen njeh Bu kulo boten priso jenengan."
ungkapku dengan bahasa jawa halus”
Sebenarnya ibu tadi akan marah
habis-habisan. Karena aku sudah menambrak motor yang memboncengnya. Tapi
mungkin karena kasihan melihat diriku yang menahan sakit sambil
tertatih-tatih untuk bangkit. kemudian dengan segera aku minta maaf dan
mengakui kesalahanku kemarahan itu pun reda.
Mungkin ibu tadi berpikir ini anak kasihan
juga pagi-pagi berangkat sekolah dengan menggunakan sepada otel yang mirip
dengan onta Arab, butut lagi. Hal itu aku lihat dari balik matanya yang
menyimpan tanda tanya dan heran.
Menurutku itu adalah kejadian yang
memalukan buatku. Karena tidak biasanya ketika aku berangkat sekolah akan
terjadi hal-hal yang konyol, itu mungkin akibat aku terhipnotis oleh sosok yang
melintas di depan.
Tabrakan kecil itu terjadi ketika
aku kehilangan konsentrasi saat aku mengalihkan pandangan mataku ke arah motor
yang melintas di depanku. Jarak sepeda motor yang melintas itu sekitar 20
langkah kaki dari pandanganku. Dan ketika tabrakan itu terjadi aku sebernanya
masih tertuju pada sebuah motor yang melintas 20 kaki dari arahku.
Seingatku
motor itu tidak melaju dengan kencang jadi aku tahu persis siapa yang ada di
atas motor itu. Di atas motor terdapat seorang cewek yang berambut panjang,
berkulit putih, bermata sahdu dan memiliki alis yang melengkung seperti bulan
yang sedang bersinar di tengah gelapnya malam.
Waktu aku menyaksikan pemandangan
itu. Udara dingin yang merayap layaknya anak semut sedang mencari makan hilang dan tubuhku mengeluarkan energi yang membara seakan-akan ingin tahu yang
mendalam disertai dengan motivasi hebat yang meringkuk di dalam tubuhku.
Aku mematung
layaknya patung pancoran yang sering aku lewati ketika pulang kerja. Aku
terpana, aku terpesona oleh dirinya yang pagi itu mengacaukan aliran syaraf
otakku yang sudah tersusun dengan rapi. Ia dengan tib-tiba datang membuyarkan
apa yang akan aku lakukan di pagi ini.
Sehingga jadwalku di pagi itu kalang
kabut tidak berurutan. Aku bertanya dalam hati siapa dia sepertinya aku kenal
dengan dirinya karena seragam sekolah Aliyah yang aku kenakan sama dengan
dirinya. “Apakah mungkin kami satu sekolah denganku." ungkapku dengan heran.
Tapi sepertinya tidak
mungkin orang seperti dia bersekolah ditempat kami, dia pasti mencari sekolah
favorit, mahal dan terkenal.
Sejak
pertemuan itu aku mulai diliputi rasa penasaran. Dan aku mulai menyusun rencana
untuk mencari seseorang yang bersosok seperti dirinya. Layak seperti detektif.
Aku mulai mengumpulkan data tentang dirinya dari mulai siapa namanya, di mana
ia tinggal sampai pada jam berapa ia keluar dari sekolahnya. Tapi sepertinya
yang cocok dengan tugas itu bukan diriku detektif tapi sensus penduduk.